Cerita Kecamatan Beji Pasuruan Tetapkan Pelayanan Publik Barter Sampah Plastik - BRK Kabupaten Pasuruan

Cerita Kecamatan Beji Pasuruan Tetapkan Pelayanan Publik Barter Sampah Plastik

2264x dibaca    2025-03-04 21:24:00    Administrator

202510/909-68e613ff6318f.jpg

Taman mini yang dipenuhi tanaman obat keluarga (toga) di kantor Kecamatan Beji, seolah menjadi oase di tengah hiruk pikuk pelayanan publik. Namun, taman itu bukan sekadar hiasan. Ia adalah simbol dari sebuah revolusi kecil yang tengah terjadi di Beji. Berbagai tanaman obat keluarga (toga) tumbuh di taman mini, tepat setelah memasuki kompleks kantor Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Jahe, bawang daun, hingga temulawak tersedia.

Taman mini itu seolah menyambut kedatangan masyarakat yang akan mengajukan layanan publik. Sebab, area itu juga sekaligus memberikan informasi bahwa layanan publik yang dibuka di Kecamatan Beji, tak diberikan cuma-cuma. Di balik rimbunnya toga, tersembunyi sebuah gagasan brilian: menukar sampah plastik dengan layanan publik.

Camat Beji  Abdurachim Efendhy adalah otak di balik inovasi ini. Di tengah krisis sampah plastik yang kian menggunung, ia melihat peluang untuk mengubah limbah menjadi berkah.

"Awalnya, kami resah karena ditegur Pak Sekda soal sampah di Beji," ujarnya dengan nada rendah. Dari keresahan itu, muncul ide untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Ide itu bukan sekadar wacana. Efendhy langsung bergerak cepat. Ia menginisiasi program yang memungkinkan warga menukar sampah plastik dengan berbagai layanan.

Mulai dari administrasi kependudukan, hingga perizinan. Tak ada patokan jumlah sampah yang harus disetor. "Berapapun yang dibawa, kami terima," katanya.

Bahkan, bagi warga yang lupa membawa sampah, pelayanan tetap diberikan. Namun, disertai edukasi tentang program ini.

"Tentunya kami sosialisasikan karena mungkin masih belum tahu. Jadi, ke depan apabila mau mengajukan apa pun agar menukarkan pelayanan dengan sampah plastik," katanya.

Respons masyarakat pun diluar dugaan sejak inovasi itu diluncurkan 7 bulan lalu. Dalam bulan pertama, 100 kilogram sampah plastik berhasil terkumpul. "Alhamdulillah, antusiasme warga sangat baik," kata Efendhy dengan senyum lebar.

Program ini tak hanya menyasar warga yang mengurus layanan publik. Keluarga penerima manfaat bantuan pemerintah, seperti PKH dan BPNT, juga dilibatkan.

"Kami ingin membiasakan warga bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan," jelas Efendhy.

Setiap dua bulan, sampah-sampah itu "dipanen". Rata-rata, 100 kilogram plastik berhasil dikumpulkan. Sampah-sampah itu kemudian dijual ke pengepul untuk didaur ulang.

Hasil penjualannya memang tak seberapa. Namun, cukup untuk memberikan kompensasi kepada para kader pemerintah, pegiat, dan pegawai non-ASN di kecamatan.

"Hasilnya kami gunakan untuk membantu teman-teman yang telah berjasa bagi kecamatan," kata Efendhy.

Bahkan, sebagian hasil penjualan digunakan untuk membantu pembayaran PBB warga yang membutuhkan. Efendhy berharap, program ini dapat memberikan dampak yang lebih luas. Selain mengurangi volume sampah plastik di TPA, ia juga ingin membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah.

"Kami ingin mengubah paradigma masyarakat, dari membuang sampah menjadi mengelola sampah," tegasnya. Namun, diakuinya, perjalanan ini tidaklah mudah. Tantangan selalu ada. Memastikan konsistensi partisipasi warga, meningkatkan infrastruktur pengelolaan sampah, dan memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. (hn)

Komentar (0)

  1. Belum ada komentar


Tulis Disini